Jangan Buru-Buru Pakai Automation Kalau Aplikasi Jauh dari Stabil

Automation Testing Ilustrasi

Mungkin banyak orang berpikir bahwa automated pasti lebih cepat, pasti lebih baik, dan akan menggantikan manual testing yang lambat. Padahal, mereka berdua adalah hal yang tidak bisa dibandingkan seperti itu. Mari kita bahas.

Apakah benar automated testing lebih baik daripada manual testing?

Manual testing, seperti namanya, adalah kegiatan pengujian yang dilakukan secara manual oleh manusia. Apakah berarti lambat? Mungkin iya, tapi menariknya yang membuat manual testing terlihat lambat adalah ketika masuk dalam tahap produksi. Anggap saja ada website yang harus segera merilis sebuah fitur yang diinginkan pengguna. Ketika kita menguji fitur itu secara manual dan berhasil, maka fitur itu siap diluncurkan ke pengguna. Tetapi untuk berjaga-jaga, kita harus menguji fitur-fitur lama yang sudah ada. Jangan sampai ada fitur lama yang rusak akibat fitur baru ini rilis. Kalau hanya 5 fitur mungkin itu mudah, tapi bagaimana ketika website yang kita uji punya puluhan fitur yang penting? Kondisi inilah yang membuat manual testing jadi terasa lambat dibandingkan automated testing.

"Berarti automation lebih cepat dong?", jawabannya iya. Automation testing lebih cepat dan lebih baik ketika melakukan pengujian fitur-fitur yang lama maupun baru secara berulang kali tanpa merasa lelah dan minim kesalahan, karena robot testing akan berjalan sesuai perintah yang ditulis. Namun tentunya, automation memiliki kelemahan besar. Seperti yang saya katakan bahwa robot testing akan berjalan sesuai perintah yang ditulis, ini membuat automation testing akan rusak jika sistem atau website tersebut berubah secara signifikan, baik dari segi tampilan sampai alur. Jika kita memerintahkan robot untuk menyentuh A, namun tiba-tiba developer mengubah A menjadi B, tentu robot akan bingung karena A sudah tidak ada.

Automation testing jauh lebih baik untuk melakukan pengujian alur secara berulang (regression testing). Tetapi jika website tersebut masih dalam tahap pengembangan (development) dan masih belum stabil, atau akan ada kemungkinan untuk melakukan perubahan besar seperti klien meminta revisi, automation testing di sini menjadi tidak berguna dan hanya menghabiskan waktu untuk menulis perintah. Solusinya, jika website masih belum stabil, tentu manual testing sangat dibutuhkan di sini. Kita tidak perlu menulis perintah yang panjang yang akhirnya akan rusak jika fitur tersebut kurang cocok atau perlu ada perubahan.

Kesimpulannya, automation testing lebih baik untuk hal yang berulang-ulang, seperti menjalankan pengujian fitur-fitur lama ketika ada fitur baru. Sementara itu, manual testing lebih baik dalam hal eksplorasi atau mencoba alur yang baru dibuat. Lagipula, untuk melakukan automation testing saja, kita harus melakukan eksplorasi manual terlebih dahulu untuk menentukan elemennya.